Thursday, May 31, 2012

Sherlock Holmes: A Game of Shadows (2011)

Film yang diangkat dari tokoh detektif ternama ciptaan Sir Arthur Conan Doyle ini masih ditangani oleh sutradara yang sama. Pemerannya pun masih orang yang sama. Gw pertama nonton film pertama “Sherlock Holmes”-nya Guy Ritchie ini sekitar dua tahun yang lalu. Seketika gw aware dengan gaya-gaya sinematografi khas dalam film ini. Di sekuelnya yang berjudul “Sherlock Holmes: A Game of Shadows” ini, ciri tersebut masih dipertahankan.

Mari kita berbincang tentang plotnya dulu. Kali ini, Holmes (diperankan oleh Robert Downey Jr.) dan rekannya Dr. Watson (diperankan oleh Jude Law) berpacu dengan waktu melawan sang “musuh abadi” (versi novel), yakni Prof. James Moriarty (diperankan oleh Jared Harris). Itulah inti film ini. Detil kisahnya bisa lo tonton sendiri supaya excitement lo dalam nonton film ini ga berkurang. Di sini, Noomi Rapace ikut andil berperan sebagai Madam Simza, seorang gypsy yang membantu Holmes dan Watson melawan Moriarty. Sebelumnya, gw pertama tau tentang Noomi Rapace ketika booming remake “The Girl with The Dragon Tattoo” oleh David Fincher, di mana di “The Girl with The Dragon Tattoo” versi sebelumnya, Rapace bermain. Dan karena gw belum pernah nonton “The Girl with The Dragon Tattoo” versi awal, bisa dibilang ini pertama kalinya gw meet-up dengan gaya akting Rapace.

Tuesday, May 29, 2012

Kala (2007)

Film karya anak negeri ini mencoba tampil beda dengan film-film lokal lainnya yang umumnya berada di jalur drama-romance, komedi, dan horor. “Kala” merupakan film besutan Joko Anwar, sutradara sekaligus screenwriter yang cukup idealis dalam membuat film, seperti film “Modus Anomali” yang rilis baru-baru ini. Namun, karena gw belum nonton film barunya itu, gw nonton film-film karyanya yang dulu-dulu. Salah satunya film “Kala” ini.

Menonton film ini membuat gw teringat akan gaya penyutradaraan dan penceritaan Mr. QT alias Quentin Tarantino. Di beberapa bagian, film ini tampak agak gore. Namun, gore yang ditampilkan cukup halus demi mempertahankan keutuhan film tanpa “campur tangan” Lembaga Sensor Film. Jadi, action-gore yang muncul tidak akan seekstrim “Kill Bill: Vol. 1” dan “Kill Bill: Vol. 2” ciptaan QT. Beberapa review yang gw temukan berkaitan dengan film ini menyatakan bahwa ini film lokal pertama yang ber-genre noir. Memang, dari latar belakang sejarah yang diangkat film ini, gaya sinematografinya yang tidak umum, dan setting waktu-tempat-suasana sangat memenuhi untuk dijadikan kategori noir. Dan ini menjadi tambah menarik dengan cerita dan skenario yang diciptakan oleh Joko Anwar. Ceritanya cukup memikat saya untuk betah nonton dari awal hingga akhir.

Saturday, May 26, 2012

Moneyball (2011)

Gw HOBI nonton film yang seperti ini. "Moneyball" serupa dengan "The Social Network" dan film-film talkative lainnya. Teruntai dengan script yang luar biasa cerdas dan hebat, "Moneyball" menyajikan kesejajaran antara pendalaman karakter, dialog, dan tata sinematografi yang baik. Jelas saja, film ini ditulis oleh screenwriter favorit gw, Aaron Sorkin, dengan didampingi oleh Steven Zaillian yang juga jebolan Oscar berkat karyanya, "Schindler's List".

Menceritakan tentang biografi Billy Beane (yang diperankan oleh Brad Pitt) melatih klub baseball yang tergolong “rendahan” hingga ia mampu meningkatkan kualitas tim dengan bermodalkan teori matematika yang dibawa oleh seorang sarjana ekonomi bernama Peter Brand (diperankan oleh Jonah Hill). Ketika gw menyebutkan “biografi” maka jelas film ini dilandaskan pada kisah nyata. Kisah nyatanya sendiri bisa gw bilang sudah cukup hebat, dan polesan script yang mumpuni menjadikan kisah "Moneyball" ini lebih spektakuler.

Monday, May 21, 2012

The Truman Show (1998)

Ini film yang SANGAT MENARIK. Film ini berkisah tentang Truman Burbank (diperankan oleh Jim Carrey), seorang pria yang hidupnya merupakan rekaan untuk sebuah program televisi bernama “The Truman Show”. Jadi, sejak ia lahir hingga ia dewasa, setiap gerak-geriknya di-shoot kamera dan ditayangkan ke seluruh dunia tanpa sepengetahuannya. Ya… jadi semacam reality show gitu lah. Otak di balik program televisi ini adalah Christof (diperankan oleh Ed Harris). Program ini live selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu, dan di film ini dikisahkan bahwa tayangan “The Truman Show” telah memasuki hari ke-10909. Sekitar 29 tahun, sepanjang usia Truman sendiri.

Ide cerita yang menarik ini dituangkan dalam screenplay yang juga menarik. Plotnya disusun rapi dan terus menciptakan rasa penasaran untuk mengetahui adegan-adegan berikutnya. Bisa gw katakan, eksekusi ide yang agak unrealistic itu sangat berhasil. Sebagai sebuah program televisi tentunya perlu ada penempatan produk sponsor dalam tayangan tersebut dan itu benar-benar dilakukan dalam beberapa adegan yang terkadang menimbulkan gelak tawa. Sungguh, gw benar-benar terpesona dengan ide kreatif di balik kisah film “The Truman Show” ini.

Zodiac (2007)

Ini adalah salah satu film dengan durasi terpanjang yang pernah gw tonton: 2 jam 37 menit. Gw akui, film ini cukup datar dan oleh karena itu gw tidak mengategorikan film ini sebagai film thriller walaupun ada beberapa adegan film ini yang agak mencekam. Salah satu karya David Fincher yang cukup mendapat perhatian khalayak, Zodiac adalah film crime yang mampu membawa penonton untuk turut berpikir layaknya seorang detektif.

Zodiac adalah film hasil rekonstruksi kejadian nyata, sebagaimana tertera di bagian paling awal film ini, “What follows is based on actual case files.” Kejadian nyata yang disuguhkan adalah kasus pembunuhan berantai oleh seseorang yang mengaku bernama Zodiac di wilayah San Fransisco sekitar tahun 1970-an. Dia meneror San Fransisco dengan mengirimkan kode, pesan pembunuhan, dan panggilan telepon ke kepolisian dan kantor penerbitan surat kabar lokal. Ia berhasil menakut-nakuti warga San Fransisco selama lebih dari 4 tahun.

Sunday, May 20, 2012

The Usual Suspect (1995)

"The Usual Suspects" adalah salah satu karya film crime terbaik yang pernah gw tonton. Jujur, beberapa teman gw menganggap film ini terlalu ngotak, tidak jelas, dan banyak omong. Ya, mungkin kalau bicara masalah selera, memang seperti inilah selera film gw. Namun demikian, dengan sebisa mungkin berusaha untuk tidak mengedepankan subjektivitas, gw yakin ini film yang menarik untuk ditonton.

Sulit untuk mengulas film ini tanpa menyuguhkan sedikit sneakpeek alias spoiler tentang alur ceritanya, karena daya tarik utama film ini ya memang tentang ceritanya. Dan tentunya, akting para pemerannya. Terutama Pak Kevin Spacey yang dapat Oscar untuk perannya di film ini. Sungguh, menurut gw Kevin Spacey memang pantas mendapatkan penghargaan perfilman dunia paling bergengsi itu atas perannya dalam film ini. Yang ia kedepankan lebih kepada ekspresi, pemaparan dialog, dan body-gesture yang gw pikir tidak sembarang orang bisa lakukan. Screenplay yang sudah dibuat dengan baik itu mungkin akan jadi rusak jika dimainkan oleh aktor selain Kevin Spacey.

The Social Network (2010)

Gw menonton film ini di awal 2011 dan langsung mengagumi film ini. Gw memberi standing ovation untuk film ini sebagai karya perfilman dengan screenplay terkuat yang pernah gw tonton. Hingga kini, gw kerap memutar film ini untuk ditonton kembali dan menghayati setiap baris skenario yang disuguhkan.

“The Social Network” adalah jagoan gw untuk meraih Best Picture dalam Academy Awards yang diselenggarakan akhir Februari 2011 lalu. Sayangnya, walaupun telah menyabet Best Picture – Drama dalam Golden Globe, sihir “The King’s Speech” agaknya masih sulit ditampik oleh para sineas anggota Academy sehingga menjadikannya sebagai Best Picture menyisihkan “The Social Network”. Ya, meski sempat diremehkan sebagai film yang impersonating Facebook, “The Social Network” mulai membungkam para pengolok-olok itu ketika unggul dalam National Board of Review. Jesse Eisenberg, yang kita kenal lewat film “Zombieland”, tak disangka-sangka berhasil meraih Best Actor. Seketika mulailah pandangan publik berganti menjadi dukungan positif bagi film yang selalu meramaikan berbagai ajang penghargaan film di Amerika Serikat ini.

Synecdoche, New York (2008)

"Synecdoche, New York" sebenarnya adalah jenis film yang sulit dimengerti. Gaya penceritaannya tipikal fantasi, agak mirip "Eternal Sunshine of The Spotless Mind" bahkan lebih mengawang-awang daripada itu. Namun demikian, tidak berarti pesan yang dikandung film ini gagal tersalurkan. Film ini mencoba menyampaikan materi-materi yang dikandungnya dengan baik di tengah keabstrakan dan kenonlinearan plot yang dirajut sang sutradara yang juga merangkap sebagai writer film ini, Charlie Kaufman. FYI, beliau jugalah yang menulis naskah untuk film "Eternal Sunshine of The Spotless Mind".

Gw akan mencoba menjelaskan plot film ini berdasarkan yang gw tangkap setelah menonton film ini. Adalah Caden Cotard, seorang sutradara teater yang cukup ternama di kotanya, mengalami keresahan dalam hidupnya. Istri dan anaknya pergi meninggalkannya serta kesehatannya yang makin lama makin buruk menjadi penyebab awal self-destruction yang ia alami. Itu berlanjut dengan gagalnya hubungan perselingkuhan yang ia rajut bersama salah satu pemain teaternya dan hilangnya komunikasi dengan anak dan istrinya. Di tengah keadaan yang sangat menggalaukan hati itu, ia menerima sumbangan dana dari seorang filantropis yang ia gunakan untuk membuat suatu pertunjukan teater yang megah di kota New York. Kesedihan demi kesedihan semakin menambah sulit hidupnya, membuatnya makin terinspirasi untuk menciptakan ide gilanya dalam teater yang akan ia bangun itu.

Identity (2003)

Suasana thriller sudah muncul di detik pertama Anda menonton "Identity", membuat gw berharap bahwa film ini akan membuat gw cukup takut atau tegang menanti adegan demi adegan yang telah dipersiapkan sang sutradara dalam plot film ini. Nyatanya film ini memang cukup memenuhi hasrat Anda pecinta film thriller, walaupun ada sesuatu yang gw rasa membuat film ini tidak terlalu spektakuler. Memang, "Identity" lagi-lagi bukan jenis film yang bisa Anda tebak-tebak plotnya. Sebagai film thriller, film ini telah memenuhi semua aspek yang gw pikir sangat mainstream: darah-darahan, shocking, adegan tragis, background music, dan cerita yang mumpuni. Dan untuk kualitas thriller yang semakin mainstream, gw melihat perlunya timeline yang tidak linear atau bisa juga plot yang di luar dugaan. Dan, ya, semua syarat di atas sudah terpenuhi oleh film ini.

Gw sengaja menyembunyikan deskripsi tentang akhir film ini agar Anda penasaran. Yang pasti, "Identity" bercerita tentang 9 orang dewasa dan 1 bocah yang terjebak badai sehingga singgah di sebuah motel, kemudian satu per satu dari mereka mati mengenaskan. Sesederhana itu? I’d rather say yes. Film ini juga menyuguhkan adanya misteri ala film detektif di mana sang pembunuh meninggalkan jejak berupa angka hitung-mundur di setiap mayat korban, juga tentunya ada saling-tuduh di antara orang-orang itu untuk mencari siapa pembunuh sebenarnya.


Saturday, May 19, 2012

Exam (2009)

Film ini cukup memenuhi ekspektasi gw akan sebuah film thriller yang baik. "Exam" mampu menunjukkan thriller dengan plot crisis yang berhasil dipadukan dengan intrik dan misteri. Film ini mampu memberikan ketegangan, rasa penasaran, takut, kekhawatiran, dan bahkan simpati dalam berbagai adegannya.

Ceritanya cukup sederhana. Delapan orang tokoh dalam film ini berkompetisi untuk meraih posisi pekerjaan yang mereka lamar. Di sini, mereka harus melewati suatu tes lamaran pekerjaan. Ketika mereka telah tiba di ruangan ujian, barulah mereka menyadari adanya keganjilan: tidak ada pertanyaan yang diujikan. Di kertas ujian yang mereka peroleh di meja masing-masing tidak tercantum pertanyaan apapun. Inilah yang di sepanjang film menjadi sumber ketegangan utama: mereka saling bekerja sama (atau juga bersaing) untuk mencari tahu apa pertanyaannya.

Friday, May 18, 2012

Devil (2010)

Satu lagi produksi M. Night Shyamalan yang pastinya thrilling dan beraroma misteri. "Devil" menceritakan suatu kisah tragis yang mendapat olahan yang baik. Dengan durasi hanya sekitar 1 jam 15 menit, bukan berarti film ini jauh dari kata layak—walaupun tidak juga dibilang memukau. Namun, yang benar-benar terasa setelah menonton film ini adalah pesan moral yang mungkin klise dan tabu (apalagi bagi masyarakat AS) tetapi cukup menohok.

Kisah sederhana ini berintikan pada lima orang yang terjebak di suatu lift gedung pencakar langit. Kemudian, satu per satu mulai mati mengenaskan dan dimulailah adegan saling tuduh-menuduh tentang siapa yang melakukan pembunuhan itu. Yang menarik, sebagaimana judul film ini “Devil”, Anda akan disuguhkan suatu “landasan teori” bahwa segala kemalangan yang terjadi di dalam lift itu terjadi akibat iblis (devil) yang mengambil bentuk manusia. Iblis akan membunuh satu per satu di antara mereka akibat kebencian yang ada dalam diri mereka masing-masing. Kelima orang ini seolah digiring ke dalam lift tersebut untuk menerima “takdir buruk” mereka atas segala dosa yang mereka telah lakukan di masa lalu.


28 Days Later... (2002)

Yap, mari kita membahas film yang sudah agak lawas alias jadul ini. “28 Days Later...” dirilis tahun 2002 dan mungkin sudah beberapa kali ditayangkan di televisi. Namun, jujur, gw sendiri baru benar-benar menontonnya dari awal hingga tuntas beberapa minggu yang lalu.

“28 Days Later...” menggambarkan suasana Inggris yang porak-poranda akibat serangan zombie. Manusia berubah menjadi zombie akibat virus yang ditularkan melalui darah. Jim (diperankan oleh Cillian Murphy), yang merupakan seorang kurir yang terbangun di rumah sakit setelah koma beberapa hari, menemukan keadaan chaotic ini dan menyadari bahwa ia adalah salah satu survivor dari pandemik nasional ini. Ia bersama Selena (diperankan oleh Naomie Harris) yang menyelamatkannya dari kejaran sekelompok zombie kemudian “berpetualang” menjelajahi kota London untuk mencari bantuan bersama survivor-survivor lainnya.

21 Grams (2003)

Menurut penelitian terkini, manusia kehilangan berat badan sekitar 21 gram tepat pada saat ia meninggal dunia. Namun, "21 Grams" bukan mempersoalkan fakta sains yang unik itu: "21 Grams" menceritakan kisah yang lebih dalam tentang kehidupan dan kematian. Salah satu jebolan Oscar yang dinilai kebanyakan orang sebagai salah satu film terbaik sepanjang masa. Benarkah demikian?

Dari segi cerita, gw bisa katakan bahwa memang kisah film ini sangat menyentuh. Intinya, "21 Grams" mengisahkan tentang Paul Rivers (diperankan oleh Sean Penn) yang hampir mati akibat kerusakan organ hati. Tak dinyana, ia berhasil mendapatkan donor hati dari seseorang yang tidak diketahui namanya. Di sisi lain, Cristina Peck (diperankan oleh Naomi Watts) sedang mengalami goncangan yang sangat dahsyat karena suami dan kedua anaknya meninggal dunia akibat tabrak lari. Si pelaku tabrak lari adalah seorang mantan berandalan yang telah insyaf dan kembali ke jalan religius, yakni Jack Jordan (diperankan oleh Benicio Del Toro). Benang merah tiga tokoh ini mulai tersambung ketika hati suaminya Cristina didonorkan kepada Paul dan Paul yang merasa harus berbalas budi akhirnya bertemu dengan Cristina dan menjalani hubungan. Dari sanalah mereka menemukan Jack dan merencanakan balas dendam demi menebus nyawa suami dan anak-anak Cristina .

The Tree of Life (2011)


Menonton film ini berarti menikmati dan berusaha menghargai seni sinematografi. Film ini tidak sekadar menyajikan hiburan berupa plot atau cerita yang menarik saja, film ini mendefinisikan karya seni yang megah, yang epik, dan yang mampu menggambarkan kehidupan dengan cara-cara yang indah. Oleh karena itu, lagi-lagi, kita dituntut untuk mengerti keindahan film ini tidak hanya dari plotnya saja.

Gw sendiri bingung bagaimana membuat sinopsis dari film ini, karena membuat sinopsis berarti mengerti plot film sementara film ini memiliki plot yang sangat abstrak, tidak dituangkan dalam dialog-dialog, tetapi digambarkan dengan begitu istimewa dan luar biasa oleh tatanan sinematografi yang apik. Pada intinya, film ini menceritakan—sebagaimana judulnya—kehidupan. Ya, kehidupan yang begitu luas itu dirangkum dalam untaian scene-scene indah dan potongan-potongan dialog yang amat sedikit tetapi sangat maknawi. Di sini, kehidupan dicontohkan oleh keluarga O’Brien, mulai dari kelahiran anak pertama suami-istri yang diperankan oleh Brad Pitt dan Jessica Chastain itu hingga mereka tumbuh dan mulai mengerti tentang keluarga, lingkungan, dan konflik-konflik lainnya.

Thursday, May 17, 2012

The Girl who Leapt Through Time (2006)

Jepang adalah negara yang unik dari segi perfilman. Sineas-sineas di sana selalu kaya akan ide cerita, punya imajinasi yang luas sekali, dan terus produktif menghasilkan produk-produk sinematografi berupa tidak hanya film live-action, tetapi animasi. Film animasi mereka memiliki ciri khas yang jauh berbeda dengan animasi Amerika, baik dari segi tampilan maupun cerita. Khususnya dari segi cerita, Hollywood lebih sering membuat film animasi bertema keluarga dengan genre drama-komedi. Animasi Jepang jauh lebih luas dari itu. Mereka bisa bikin drama-romance atau bahkan thriller-horror dengan animasi.

“The Girl Who Leapt Through Time” adalah salah satunya. Ini film bergenre drama-romance dengan balutan sci-fi sebagai penguat. Berkisah tentang Makoto (disuarakan oleh Riisa Naka), seorang siswi SMA, yang karena suatu hal memiliki kemampuan untuk melompat-lompat dari satu titik waktu ke titik waktu yang lain. Dengan kemampuan ini, ia mengulangi suatu kejadian yang tidak ia sukai dan mencoba memperbaikinya sehingga berjalan sesuai yang ia inginkan. Di sinilah letak pesan moral yang kuat dari film ini.

The Avengers (2012)

Masih belum percaya bahwa gw bisa sebegitu excited-nya untuk nonton film ber-genre superhero kayak film ini. Ketika jutaan movie-lover sedunia sangat anticipate film ini di tahun 2012, gw sama sekali enggak. Gw lebih nunggu "The Dark Knight Rises" atau "Skyfall"-nya 007 daripada film yang sangat spektakuler dari segi cast maupun budget ini. Lalu mengapa begitu excited? Film ini tidak dirilis serentak di seluruh dunia; film ini dirilis lebih dulu di beberapa negara seperti India atau Australia, sebelum rilis tgl 5 Mei lalu di Indonesia. Dan, sesaat setelah rilis perdana itu, IMDB mencatatkan rating 8,9. Ya, 8,9! Ga percaya, kan? Dan film ini langsung melonjak ke peringkat #28 dari "Top 250 Movie" IMDB. Jelas saja gw penasaran. Apa iya memang begitu bagus?

Jujur saja, gw tidak begitu suka (atau malah TIDAK suka) film superhero seperti ini. Satu-satunya film superhero yang gw favoritkan adalah "The Dark Knight" (dan itupun gw menolak menyebutnya film superhero karena film itu lebih ke film action-thriller :D). Lagipula, banyak film superhero yang umumnya hanya mengedepankan visual grafis, sementara cerita, akting pemainnya, maupun olah sinematografinya ancur abis (kalau ga bisa disebut biasa aja). Kayak "Transformer" (apalagi "Transformer 2"). Jadi gw selalu memandang sebelah mata film superhero.

Shame (2011)

Waktu pertama tahu bahwa film ini di-rate NC-17 oleh MPAA, agak mikir dua kali buat nonton. NC-17 ini datang bukan karena adanya sadisme yang overdosis di film ini melainkan karena adanya adegan buka-bukaan yang berlebihan. Jadi, jangan kaget kalo adegan-adegan seks dan sejenisnya di film ini sangat jauh melampaui batas dibanding film-film lainnya.

Tapi poin utama gw nonton film ini bukan tentang itu. Gw nonton trailer-nya dan berdecak kagum karena adanya sederetan penghargaan dan kritik positif dari berbagai media perfilman tentang film ini. Plot “Shame” berpusat pada seorang eksekutif muda bernama Brandon (diperankan dengan sangat apik oleh Michael Fassbender) yang hiperseks. Perilaku seks menyimpang ini membuat dia kerap melakukan hal-hal yang (agak) melanggar norma seperti menguntit wanita, ngelamun ngeliatin bagian tertentu dari seorang wanita, hingga melakukan seks sesama jenis. Perbuatan yang selama ini berhasil ditutupi dari dunia luar kini mulai terkuak semenjak adik perempuannya, Sissy (diperankan oleh already-grown-up Carey Mulligan), ikut tinggal bersama di apartemennya. Di sinilah konflik mulai muncul.

Wednesday, May 16, 2012

50/50 (2011)

Hal yang paling membuat gw tertarik nonton film ini adalah karena ada Joseph Gordon-Levitt di film ini. Suatu saat nanti orang ini akan dapet Oscar, entah sebagai Best Leading Actor atau Best Supporting Actor, karena semakin ke sini dia semakin keren dalam bermain film. Hal terpenting lainnya dari film ini adalah akibat tema yang diangkat: kanker. You know, memang banyak sekali film yang dibuat berdasarkan penyakit-penyakit serius, tidak hanya kanker, tetapi hanya sedikit yang bisa mengombinasikan unsur blues ala drama dengan komedi. 50/50 adalah salah satu yang “mencoba” untuk melakukan itu.

Berkisah tentang Adam Lerner (diperankan oleh Joseph Gordon-Levitt), seorang pria berusia 27 tahun yang awalnya merasa sehat wal afiat yang ternyata didiagnosis menderita suatu kanker ganas yang tergolong jarang, plot utama film ini menitikberatkan permasalahan tentang how he dealt with this situation, tentang bagaimana ia bisa perlahan menerima keadaannya, hingga tentang bagaimana ia bisa survive dengan penyakitnya. Dan kesemuanya itu ditampilkan dengan menambahkan unsur komedi, baik dari dialog yang terjadi maupun pengarakteran tokoh-tokohnya. Ini bisa jadi merupakan alasan utama kenapa ada Seth Rogen di film ini. Ya, komedian ini berperan sebagai Kyle, temannya Adam. Tugas Seth Rogen, strictly speaking, adalah mencoba memasukkan unsur humor dalam plot yang secara alamiah akan berjalan sendu ini.