Friday, June 8, 2012

Press Release!

Ehm ehm!

I know that this blog hasn't even reached its 500 visitors yet, and I know that I myself haven't even learned enough about movies, but unfortunately I need to release this information. Selama sebulan ke depan gw (atau kami) akan menjalankan tugas Praktik Kerja Lapangan (PKL). Gw sendiri akan PKL di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bekasi Utara dan itu butuh jarak tempuh yang "lumayan" dari rumah gw (walaupun itu tergolong yang paling dekat). Berada di kantor dari Senin sampai Jumat, pukul 7.30 pagi sampai 5 sore, sambil terus meng-update Laporan PKL yang entah-mau-digimanain itu, mungkin akan sedikit menyita waktu gw.

Jujur mungkin gw sendiri akan selalu punya waktu untuk online dan berselancar sana-sini di web, tetapi gw agak ragu gw bisa review movie lagi. Sabtu-Minggu pasti ada waktu, dan gw berharap gw bisa memanfaatkan waktu untuk nonton film di waktu-waktu tersebut, tetapi selalu ada kekhawatiran banyak hal yang terjadi entah di rumah atau di kantor (atau di kampus?) nanti. Dan pada akhirnya, gw menginformasikan dengan berat hati bahwa mungkin blog ini akan vakum selama sebulan.

Oh, god, please no! :'(

Seandainya ada di antara para visitor yang kerap mampir ke blog ini (kalau ada), gw minta maaf atas ketidaknyamanan ini. Sungguh, gw selalu berencana untuk posting secara reguler (karena di masa-masa ngerjain Rencana Laporan PKL kemarin saja gw masih sempat untuk nonton-nonton), tetapi tidak ada salahnya membuat precaution buat visitor setia blog ini (sekali lagi, kalau ada) supaya tidak kecewa.

Trims atas segala atensinya, semoga blog ini terus ada sampai selamanya. Doakan juga ya supaya PKL gw lancar, laporan gw lancar, dan wisuda gw juga lancar! Amin.

My Favorite Scene #1: "Sherlock Holmes: A Game of Shadows"

Oke, ini adalah post pertama yang gw sengaja bikin untuk dijadikan semacam feature post untuk blog ini. "My Favorite Scene" untuk ke depannya akan membahas satu (atau lebih) scene dalam satu film tertentu yang baru-baru ini gw tonton. Penentuan scene tersebut, tentunya, berdasarkan selera gw. Dan karena yang dibahas ini adalah scene, maka bisa jadi review atas scene tersebut sangat jauh berbeda dengan review atas filmnya secara keseluruhan. So, here we go, my favorite scene number 1 from "Sherlock Holmes: A Game of Shadows"!

Thursday, June 7, 2012

Laddaland (2011)

N.B.: Film ini ditonton bareng-bareng my very best friends sebelum kami pulang ke rumah masing-masing menjalankan tugas Praktik Kerja Lapangan (PKL) selama sebulan penuh. I will miss you all guys! :') for Arief Hidayat, Bayuaji Galih Kurniawan, Deryl Hernandar, Dimas Satria Purwo Sajati, Harjuna Esa Dinasthi, Hesna Syafrianti, Pujian Nauli, Raisha Nurul Ichsanti, and Rominta Sastriana Bakara. Yah, walaupun menurut review gw ini, filmnya worse, tapi spending time with you all guys before a short farewell was great.

Gw selalu takut untuk nonton film horor Thailand. Bukan karena gw takut untuk nonton film horor, tetapi karena menurut gw mereka mampu bikin film yang horornya ekstrim. Bisa jadi, sebagai sesama penduduk Asia Tenggara, selera horor kita sama. Bahkan jenis persepsi kita akan sosok hantu itu sama: wanita berambut panjang alias kuntilanak atau mayat yang hidup lagi dengan bentuk fisik yang rusak. Berbeda sekali dengan horor Hollywood, sebut saja “Paranormal Activity”, yang mereka klaim sebagai film yang menakutkan tetapi gw justru ga merasakan apapun yang menakutkan itu. Atau “The Shining”, yang dianggap sebagai film terhoror sepanjang masa, yang menurut gw ga terlalu horor banget (atau justru malah biasa banget). “Laddaland” mampu membuat gw berkali-kali mengintip dari balik jari-jari tangan untuk menyaksikan adegan yang sepertinya akan horor.

“Laddaland” sebenarnya dibangun dari premis yang sederhana tentang keluarga. Sopon Sukdapisit, sang sutradara, mencoba membangun kisah-kisah horor yang dipadu dan ditulangpunggungi suatu kisah drama. Bahkan, opening “Laddaland” sama sekali tidak mencerminkan kengerian ala horor; alih-alih, film dibuka manis dengan adegan Thee (diperankan oleh Saharath Sangkapreecha), sang ayah, menyambut kedatangan istri dan kedua anak mereka di rumah baru mereka. Konflik mulai terjadi ketika salah satu tetangga mereka mati dibunuh secara mengenaskan. Dari sanalah tersebar isu horor tentang hantu tetangga tersebut. Kemudian, isu terus berkembang dengan kematian tetangga-tetangga lain. Kata “Laddaland” sendiri diangkat dari nama perumahan tempat Thee dan keluarga tinggal. Perumahan Laddaland, alhasil, dicap sebagai perumahan berhantu oleh masyarakat, yang mulai berbondong-bondong pindah rumah meninggalkan rumah mereka di Laddaland akibat isu hantu-hantu tersebut.

Monday, June 4, 2012

Mind-Blowing Music Videos by Michel Gondry

Yap yap. Pengen jeda sedikit dari nonton full-length movie. Di sini gw mau membahas 5 music video dari Michel Gondry, sutradara ternama dari Prancis. Sebenernya gw punya ide untuk nulis ini setelah ngebaca comment dari visitor blog ini (di mana visitor itu adalah teman sekelas gw :3, Prihutomo Hanggoro Bhakti) yang ngasih link ke sebuah video Youtube yang menurutnya keren. Dan ketika gw coba streaming video tersebut, I found it extremely mind-blowing! (lebai). Kemudian gw juga mengetahui bahwa Michel Gondry-lah yang menyutradarai music video tersebut. Michel Gondry? Siapa dia?

Sejujurnya gw tau orang ini sebagai sutradara film “Eternal Sunshine of The Spotless Mind”. Ya, karyanya itu adalah karya yang berhasil meyakinkan gw akan kemampuan akting Jim Carrey yang ternyata mampu main film drama dengan baik (sebelum gw liat dia di “The Truman Show”). Dan lagi, film tersebut adalah suatu film yang unik. Keunikan film tersebut ada pada gaya penceritaannya yang sedikit fantasi, penuh metafora, tetapi tetap indah. Untuk yang satu itu, mungkin gw lebih suka menyebutnya sebagai akibat campur-tangan Charlie Kaufman dalam screen-writing (walaupun Gondry juga ikut ambil bagian dalam membuat ide cerita bersama-sama dengan Kaufman dan Pierre Bismuth). Tetapi, menonton “Eternal Sunshine of The Spotless Mind” sudah cukup membuat gw mengenal tipikal film Gondry.