Friday, August 31, 2012

Donnie Darko (2001)

Donnie Darko

Ada banyak alasan bagi seseorang untuk menonton film. Sebagian besar orang menonton film untuk kepentingan hiburan, yakni untuk melepas penat dari kesibukan sehari-hari. Sebagian yang lain menonton film karena hobi. Namun, tidak banyak orang yang menjadikan film sebagai media kontemplasi atau pengembangan pemikiran. “Donnie Darko” bisa jadi adalah sebuah film yang dibuat untuk tujuan yang terakhir.

“Donnie Darko” marak dibicarakan di dunia maya karena kisahnya yang mind-blowing. Film keluaran tahun 2001 ini dibintangi oleh Jake Gyllenhaal (pernah bermain di “Source Code”, “Prince of Persia:  Sands of Time”, atau “Brokeback Mountain). Jake memerankan Donnie Darko sendiri, yakni seorang siswa SMA yang punya gangguan kestabilan emosi sehingga kerap melakukan tindakan-tindakan kurang ajar baik di rumah maupun di sekolahnya. Suatu saat, entah dalam mimpinya atau dalam imajinasinya, Donnie didatangi seorang sosok berkostum kelinci besar dengan wajah mengerikan bernama Frank. Frank kemudian banyak memberi bisikan tentang berbagai hal yang misterius kepada Donnie.

Wednesday, August 29, 2012

The Cabin in The Woods (2012)

The Cabin in The Woods

Well, pada awalnya film ini sama sekali ga masuk hitungan gw untuk gw tonton tahun ini. Bisa jadi karena hampir tidak ada horor Hollywood akhir-akhir ini yang bisa tampil memukau. Yaa gw akui gw juga ga terlalu hobi nonton film horor sih, walaupun gw masih tetap minat nonton film horor tertentu. Dari berbagai review dari berbagai situs film maupun blog, gw mendapati review-review yang luar biasa tentang “The Cabin in The Woods” (TCITW). Ini yang kemudian membuat gw begitu excited untuk nonton TCITW.

The less you know about this movie, the better. Itu sebabnya gw akan berusaha merangkai posting kali ini sedemikian rupa agar Anda semua masih tetap excited tentang film ini. Ceritanya klise banget! Lima orang muda-mudi berlibur ke cabin (rumah singgah) di hutan, lalu horor mulai muncul sejak mereka tiba di hutan. That’s it! Bukan sebuah ide cerita yang out-of-the-box kan? Tetapi, seperti yang tertulis di trailer-nya, “You think you know the story, you think you know the place. Think again,” film ini tidak berjalan semulus yang Anda duga.

Thursday, August 23, 2012

How IMDB Rating Works

IMDB Rating

Well, bisa jadi ini topik yang agak berat untuk gw tulis karena ... “ah, tau apa sih lo tentang IMDB, bar...” tapi tidak ada salahnya mencoba kan? Jadi berbekal rasa penasaran yang dibarengi dengan rasa malas (lagi), gw mencoba memulai menulis—atau lebih tepatnya (lagi-lagi) “merangkum”—suatu topik yang mungkin telah menjadi pertanyaan dalam benak kita semua, para pemerhati dan pecinta film. Actually, you can google it by yourself to know more about this. Thus, to make this post seems so different, I try to put my own way of explaining, so you can read it in a more brief, easy-to-understand explanation because I retell you in my own way.

How does IMDB rating work?

Pernah berkunjung ke IMDB kan? Jika Anda browse sebuah film di sana, Anda akan menemukan sesuatu yang disebut IMDB rating, yakni semacam “nilai” seberapa bagus film tersebut di mata para pengguna IMDB yang lain (ingat, IMDB rating ini bukan rating yang diberikan tim IMDB atas suatu film, tetapi user sendiri yang memberikan rating—oleh karena itu, untuk tidak menyesatkan, gw akan menggunakan istilah “user rating” instead of “IMDB rating” for the rest of the post). Pengguna yang telah terdaftar (registered users) bisa memberikan penilaiannya atas suatu film dengan menggeser kursornya di atas rentetan bintang-bintang dari 0 sampai 10, atau memilih dari dropdown menu untuk situs mobile IMDB. Rating yang Anda input akan memengaruhi nilai sebuah film. Memang sih, tidak serta-merta setelah Anda input nilai maka user rating-nya akan berubah. Tetapi, jika itu dipopulasikan dengan registered user lainnya yang jumlahnya mencapai jutaan itu, tentu akan ada perubahan secara signifikan.

Wednesday, August 22, 2012

Taxi Driver (1976)

Taxi Driver

“Taxi Driver” adalah film klasik karya Martin Scorsese yang dibintangi oleh Robert De Niro. Film ini dirilis tahun 1976 dan kini bertengger di rank #46 dari "Top 250" IMDB. Film ini tampil dengan sangat kharismatik, menceritakan Travis Bickle (diperankan oleh Robert De Niro), seorang mantan angkatan laut yang kesepian dan agak mentally-depressed hingga ia memutuskan untuk menjadi supir taksi untuk shift malam seraya bergulat dengan insomnia kronis yang ia derita. Mengelilingi kota New York dalam taksinya, ia mempelajari kehidupan, khususnya kota New York beserta para penghuninya.

Tuesday, August 21, 2012

Perahu Kertas (2012)

Perahu Kertas

Gw ga tau angin apa yang membawa gw siang-siang panas tadi ke bioskop untuk menonton drama cinta remaja berjudul “Perahu Kertas” ini. Hampir ga pernah lho nonton film cinta-cintaan kayak gini. Sendirian lagi, padahal yang masuk teater justru para muda-mudi (baca: ABG) bersama pasangannya masing-masing. Sigh~.

Bisa jadi karena gw sekadar penasaran seperti apa Dee menguntai kisah yang menurut gw cukup tidak mainstream untuk penulis sekaliber Dee. Memang, gw ga pernah melahap habis satupun buku-bukunya, tetapi beberapa cuplikan karyanya seperti “Filosofi Kopi” dan “Rectoverso” udah pernah gw baca dan itu indah. Oleh karena itu gw melihat kemampuan Dee alias Dewi Lestari dalam menulis sepertinya terlalu expert untuk sekadar menulis kisah cinta remaja seperti “Perahu Kertas”. Dan lagi, ini karyanya Hanung Bramantyo. Dia salah satu sutradara Indonesia yang karya-karyanya masih mungkin akan gw tonton dibandingkan sutradara lain.

Sunday, August 19, 2012

Serba-Serbi Genre Film (3 of 3)


<<lanjutan dari posting "Serba-Serbi Genre Film (2 of 3)">>

Romance
Film romance (roman) adalah film yang menceritakan kisah percintaan. Tema utamanya harus percintaan, jadi jika ada beberapa adegan saja dalam suatu film yang menunjukkan kisah percintaan sebagai selingan, film tersebut tidak serta-merta dianggap romance. Biasanya, genre ini akan combine dengan genre drama. Misalnya film “Titanic” dan “(500) Days of Summer”. Ketika gw menyebutkan kisah “percintaan”, yg gw maksudkan di sini tidak hanya percintaan yang wajar antar lawan jenis lho. Ada kalanya film romance menceritakan percintaan sesama jenis, seperti dalam “Brokeback Mountain”. Hati-hati dengan genre ini karena biasanya akan ada banyak adegan dewasa. Minimal ciuman lah. Jadi pastikan nonton romance tidak dengan adik atau anak kecil ya! :D

Sci-Fi
Udah gw singgung di penjelasan genre fantasy di atas, sci-fi (dibaca “sai-fai”, kepanjangan dari science fiction) banyak berbicara tentang sains dan teknologi walaupun seringkali hal-hal yang difilmkan itu tidak benar-benar nyata secara ilmiah. Ingat, film sci-fi bisa juga bergerak di ranah politik atau sosial, asalkan diceritakan dengan empiris. Sulit sih ya memisahkan antara sci-fi dan fantasy karena intinya, keduanya sama-sama ngayal. Gw lebih suka membedakan keduanya sebagai berikut: sci-fi selalu mencoba menjelaskan bahwa kejadian fiktif itu akibat peristiwa ilmiah, sedangkan fantasy tidak memberikan penjelasan apa-apa dan penonton dibuat menerima apa-adanya. Sci-fi bisa bercerita tentang robot (“The Terminator”), pikiran manusia (“Eternal Sunshine of The Spotless Mind”), monster (“Godzilla”), alien (“Alien”), bencana (“Planet of The Apes”), atau time-travel (“Back To The Future”).

Serba-Serbi Genre Film (2 of 3)


<<lanjutan dari posting "Serba-Serbi Genre Film (1 of 3)">>

Crime
Film crime mengisahkan aksi kriminal (yaiyalaah~). Biasanya, film crime ini melibatkan polisi ataupun hakim. Sub-genre film crime antara lain film detektif (“Se7en”), film-film yang ngambil latar di pengadilan ("Dial M for Murder"), film tentang pembunuhan (“Fargo”) atau perampokan (“Inside Man”), atau film gangster (“Reservoir Dogs”, “Ocean’s Eleven”). Tidak jarang genre crime akan combine dengan genre action, thriller, atau mystery.

Documentary
Nah, yang ini sepertinya juga udah jelas kan? Film dokumenter itu film yang pure berisi reka-ulang atau rekaman dari kejadian nyata. Film dokumenter mencoba menceritakan kembali peristiwa atau isu yang telah atau tengah terjadi dan mengembangkannya secara komprehensif dengan mencari lebih banyak informasi yang terkait. Ingat bahwa yang difilmkan haruslah tokoh yang benar-benar nyata, bukan diperankan oleh aktor lain, (kecuali jika berupa adegan reka-ulang), dan informasi yang disajikan harus benar-benar nyata, bukan informasi palsu. Itu sebabnya, film dokumenter juga kerap disebut film nonfiksi. Film-film seperti "The Making of ..." atau "Tribute to..." bisa tergolong documentary. Contohnya “Fahrenheit 9/11” dan “Capitalism: A Love Story”. Di Hollywood, kita kenal Michael Moore, filmmaker yang paling gandrung bikin documentary.

Serba-Serbi Genre Film (1 of 3)


Bismillahirohmanirohim! Setelah melakukan sedikit riset (ceile~) dan browsing sana-sini, demi memenuhi rasa penasaran yang dibarengi rasa malas :P, gw mau mencoba (memulai) menulis—atau lebih tepatnya “merangkum”—serba-serbi tentang genre film. Ini menjadi penting, terutama bagi gw yang tengah merintis jalan menjadi movie-blogger (apa siiih~), untuk mengenali film-film yang jumlahnya banyak banget itu dalam suatu bentuk kategorisasi yang sederhana. Di lain pihak, gw juga berharap mudah-mudahan pembaca bisa menarik manfaat dari entah-apa-yang-akan-gw-tulis ini ^^v

Kata “genre” sendiri punya arti “aliran” atau “gaya”; dalam hal ini, genre film bisa diartikan sebagai jenis atau aliran film ditilik baik dari cerita maupun latarnya. Genre diterapkan tidak hanya untuk film tetapi juga untuk buku, musik, maupun karya seni lainnya. Genre film biasanya menjadi standar atau referensi-cepat bagi seseorang untuk menentukan (1) film apa yang akan ditonton atau (2) apakah akan menonton suatu film atau tidak. Misalkan: A: “Di bioskop lagi ada film bagus apa nih?” | B: “Perahu Kertas” | A: “Film apaan tuh” | B: “Drama” | A: “Ah, gw ga suka film drama! Ada film action ga?”

Thursday, August 16, 2012

Eternal Sunshine of The Spotless Mind (2004)

Eternal Sunshine of The Spotless Mind

I have mentioned this movie in my previous review. “Eternal Sunshine of The Spotless Mind” adalah karya perfilman yang berhasil memadukan romance dengan sentuhan sci-fi semi-fantasi dengan apik. Film ini disutradarai oleh Michel Gondry. Ia pulalah yang menelurkan ide cerita film ini bersama Charlie Kaufman dan Pierre Bismuth.

Premis film ini unik: menghapus ingatan seseorang melalui suatu prosedur medis. Joel Barish (diperankan oleh Jim Carrey) bertemu secara tidak sengaja dengan Clementine Kruczynski (diperankan oleh Kate Winslet) ketika Joel berada di tengah kegalauan setelah putus dari pacarnya. Seiring berjalannya waktu, mereka menjalin hubungan. Sayangnya, hubungan mereka lalu merenggang dan Clementine meminta sebuah firma bernama Lacuna Inc. untuk mengadakan prosedur penghapusan memori terhadap Joel. Joel merasa tersakiti akan perbuatan Clementine ini dan melakukan hal yang sama terhadap Clementine. Namun, seiring dengan terhapusnya memori akan masing-masing, mereka justru menyadari bahwa mereka sebenarnya masih saling mencintai dan berusaha menghentikan prosedur penghapusan memori tersebut.

Hello Ghost (2010)

Hello Ghost

Bisa jadi ini adalah film Korea pertama yang gw tonton. Pernahkah gw mengutarakan di blog ini kalo gw kurang tertarik nonton film-film Asia for unknown reason (and that’s why, in a way, this post really happens in me :P)? Dengan sedikitnya pengetahuan gw tentang film, gw belajar untuk mengenali satu persatu film-film Asia, khususnya Asia Timur dan Tenggara seperti Jepang, Thailand, dan Korea. “Confessions” dan “The Girl who Leapt Through Time” dari Jepang ternyata sangat outstanding. Horror Thailand berhasil membuat gw merinding. Kini, saatnya mencicipi citarasa film Korea.

Harus gw akui “Hello Ghost” punya ide cerita yang sangat kreatif (actually, film-film Asia Timur lainnya yang pernah gw tonton punya keunikan ceritanya masing-masing). “Hello Ghost” bercerita tentang Sang-man (diperankan oleh Cha Tae-hyun), seorang pemuda yang putus asa karena hidup kesepian yang kemudian memutuskan untuk bunuh diri. Setelah berkali-kali mencoba, usaha bunuh dirinya gagal. Namun, sejak saat itu, ia bisa melihat hantu di sekitarnya. Hantu-hantu tersebut berjumlah empat orang: seorang kakek pervert (diperankan oleh Lee Mun-su), seorang bapak gendut perokok (diperankan oleh Ko Chang-seok), anak kecil yang rakus (diperankan oleh Cheon Bo-keun), serta wanita yang selalu menangis (diperankan oleh Jang Young-nam). Alhasil, keempat hantu tersebut hidup bersama Sang-man dan mengikutinya kemanapun ia pergi.

Family Guy (TV-Series)

Family Guy

Lucky there’s a family guy /  Lucky there’s a man who’ll positively can do all the things that make us laugh and cry / Here’s the family guy! //

“Family Guy” adalah sebuah TV-series komedi-situasi bergaya animasi 2D yang ditayangkan di saluran Fox di Amerika Serikat. TV-series ini telah tayang sejak tahun 1999 hingga kini (siarannya sempat dihentikan pada tahun 2003, namun kembali tayang pada tahun 2005). Kreator TV-series ini adalah Seth MacFarlane yang baru-baru ini mencuat setelah rilis film perdananya, “Ted”.

Cerita “Family Guy” berpusat pada kehidupan keluarga Griffin yang tinggal di sebuah kota bernama Quahog di negara bagian Rhode Island, Amerika Serikat. Keluarga Griffin terdiri atas pasangan suami-istri Peter Griffin dan Lois Griffin beserta tiga anaknya: Meg, Chris, dan Stewie, serta satu anjing peliharaan yang bisa berbicara, Brian. Menapaki season ke-11, “Family Guy” masih digemari oleh masyarakat Amerika Serikat (dan negara-negara lain yang membeli hak siarnya). Bahkan, TV-series ini telah merebut 5 piala Emmy.

Wednesday, August 1, 2012

Contagion (2011)

Contagion

Imagine this: a thriller movie + award-winning or award-nominated casts + an award-winning director. What will you expect? “Contagion” memiliki ini semua. “Contagion” tampil dengan poster film dan trailer yang sudah memberikan premis akan aroma thriller bergaya apocalyptic. Sutradaranya Steven Soderbergh populer dengan “Ocean’s Eleven”, “Ocean’s Twelve”, dan “Ocean’s Thirteen” serta menyabet Oscar berkat karya besutannya, “Traffic”. Cast-nya aktor-aktris hebat semua: Kate Winslet, Jude Law, Matt Damon, Marion Cotillard, Laurence Fishburne, dan Gwyneth Paltrow.  Enam-enamnya pernah dinominasikan di Academy Award, bahkan empat di antaranya (Kate Winslet, Matt Damon, Marion Cotillard, dan Gwyneth Paltrow) sudah memenangi piala Oscar. Maka, salahkah gw kalo gw mengekspektasikan “Contagion” sebagai suatu thriller yang seharusnya punya kualitas lebih baik daripada film lain?

Sayangnya, ini tidak berhasil. “Contagion” berjalan terlalu datar akibat cakupan cerita yang menurut gw terlalu… komprehensif. Menceritakan suatu wabah mematikan yang mulai merebak dari Amerika Serikat ke seluruh dunia sehingga menyebabkan kepanikan warga internasional, “Contagion” merangsek masuk ke lini-lini yang lebih dalam dari sekedar “virus yang mewabah”. “Contagion” juga mengangkat dilema antara kepentingan masyarakat yang harus dikedepankan oleh para pejabat publik dengan kehidupan pribadi mereka sendiri. “Contagion” juga menganalisis dan merekam-jejak muasal wabah bermula with some chemistry-medical thingy. Film ini juga menggambarkan unsur politik yang muncul dari pihak-pihak yang mencoba mengambil keuntungan dari wabah internasional tersebut. Lalu, film ini juga tampil agak melodrama dengan sedikit dramatisasi tentang kematian. See? “Contagion” menurut gw berbicara terlalu banyak untuk sekedar film tentang wabah penyakit.

Paul (2011)

Paul

Awalnya gw tidak terlalu tertarik menonton film komedi seperti ini karena, jujur, ini bukan genre gw. Yaa walaupun ada kalanya sesekali menonton komedi sebagai hiburan, gw tidak yakin bahwa “Paul” adalah salah satu film yang mampu membuat gw tertawa terbahak-bahak. FYI, gw sendiri sudah lupa kapan terakhir kali gw nonton film Hollywood yang bikin gw tertawa kencang.

Namun, anyway, komedi apapun yang dibintangi Simon Pegg bersama teman gay bromance-nya, Nick Frost, selalu punya keunikan. Gw pertama kali tertarik dengan gaya film keduanya ketika menonton “Hot Fuzz”. Gw akui, walaupun itu komedi yang tidak bikin gw tergelak tertawa, “Hot Fuzz” memiliki nilai tambah yang membuatnya menjadi komedi yang berkelas: “Hot Fuzz” punya nilai filosofi dan moral yang kuat sekali. Kemudian, “Shaun of The Dead” juga dieksekusi dengan baik oleh sutradara yang juga menangani “Hot Fuzz”, Edgar Wright. Ini menjadi spesial akibat Simon Pegg (atau juga Nick Frost) yang juga selalu berpartisipasi sebagai script writer. Bagaimana dengan "Paul"?