Wednesday, September 5, 2012

The Girl with The Dragon Tattoo (2011)

The Girl with The Dragon Tattoo

Gw nonton film ini di awal 2012 dan sejak saat itu gw kerap menonton ulang film ini. Bisa jadi ini film yang paling gw tunggu di awal tahun 2012 walaupun pada akhirnya film ini batal rilis di Indonesia. Alasannya, pihak distributor film tidak mengizinkan beberapa adegan kekerasan dan torture disensor oleh Lembaga Sensor Indonesia karena dinilai akan mengurangi esensi keseluruhan film ini. Well, akhirnya (dengan berbagai cara) gw berhasil nonton film ini.

Apa sih yang bikin gw tertarik banget nonton film ini? Jelas, sutradaranya David Fincher! Sejak nonton “The Social Network”, gw mulai mencari tahu tentang Fincher dan menonton kembali film-filmnya seperti “Fight Club”, “The Curious Case of Benjamin Button”, “Se7en”, “Zodiac”, dan “The Game”. Dan, bisa gw pastikan gw jatuh cinta dengan karya-karyanya. Klise memang, sebagian besar pecinta film mungkin akan memandang remeh sutradara yang satu ini, apalagi jika di-compare dengan sutradara-sutradara hebat dan legendaris lainnya. Tapi, karya-karyanya selalu punya style sendiri yang gw banget!

“The Girl with The Dragon Tattoo” (TGWTDT) pun tak ubahnya. Mengawali debut trilogi “Millenium” saduran novel trilogi berjudul sama karya Stieg Larsson, TGWTDT pernah dibuat versi Swedia-nya oleh Niels Arden Oplev dan dibintangi Noomi Rapace dan Michael Nyqvist. Pusat cerita trilogi ini ada pada karakter Lisbeth Salander (diperankan oleh Rooney Mara), seorang hacker cewek dengan tato naga di punggung, tindikan di berbagai daerah tubuh, dan rambut yang kick-ass, bersama seorang journalist-turn-to-detective Mikael Blomkvist (diperankan oleh Daniel Craig). Di TGWTDT, keduanya dipertemukan untuk memecahkan kasus hilangnya seorang putri konglomerat Swedia sejak empat puluh tahun yang lalu.

Gw belum pernah nonton TGWTDT versi Swedia-nya dan gw juga belum pernah baca novelnya, sehingga di sini gw akan murni mengulas filmnya saja. Fincher sendiri menyatakan bahwa film ini murni reinterpretasi dari novelnya dan mengabaikan film pendahulunya, sehingga ia menjanjikan cerita yang benar-benar setia dengan novelnya. Well, gw sendiri melihat TGWTDT mungkin agak mirip dengan “Zodiac” (lihat ulasannya di sini), di mana penonton akan diajak untuk sama-sama mengerti proses berpikir Blomkvist dan Salander dalam memecahkan misteri tersebut. Mungkin akan jadi sedikit bikin penonton bosan, tetapi gw sendiri lebih menikmati nonton TGWTDT dibandingkan “Zodiac”. Jadi, jika Anda khawatir film ini akan bikin dahi Anda berkerut karena mikir, TGWTDT punya sajian yang lebih mudah dinikmati dari itu.
"May I kill him?" -- Lisbeth Salander
Salut untuk Rooney Mara untuk penampilan totalnya di film ini. Anda ingat Erica Albright di film “The Social Network”? Anda ingat adegan pembuka film tersebut di mana Mark diputusin Erica melalui debat yang sangat panjang? Rooney Mara, yang memerankan Erica Albright di film itu, amat berbeda dengan Rooney Mara di TGWTDT. She transformed into a dark, terrifying girl you will avoid to interact with. Bisa jadi totalitas aktingnya itu berkat bantuan makeover penampilan dengan tato, tindik, dan gaya rambut yang “aneh”, namun tetap saja ia mampu membawakan karakter Salander yang rapuh tetapi menakutkan. Daniel Craig mungkin tidak terlalu tampil menonjol, bahkan bisa dikatakan chemistry antara ia dan Mara dibangun atas pondasi yang tidak kuat sehingga sepanjang durasi film, gw lebih menikmati mereka tampil sebagai karakter sendiri-sendiri dibandingkan saat mereka berinteraksi.

Naskah film ini ditangani oleh Steven Zaillian yang pernah menang Oscar atas karya penulisannya untuk film “Schindler’s List”. Script TGWTDT yang ia buat tergolong sangat dewasa dan cerdas. Selain itu, Fincher membawa hampir seluruh kru bekas “The Social Network” ke film ini. Sinematografi, editing, dan scoring masih dipegang orang-orang yang sama, sehingga jika Anda menemukan banyak kemiripan dengan “The Social Network” (lihat ulasannya di sini), Anda tidak perlu mengeluh karena memang di sanalah gw menemukan “nyawa” dari film-filmnya Fincher. Scoring yang jenius untuk film ini masih diolah duet Trent Reznor dan Atticus Ross, walaupun mereka tidak berhasil menyabet nominasi Oscar seperti yang mereka lakukan di “The Social Network”. Tapi lihatlah lagu “Immigrant Song” yang di-remake dengan beat metal-rock di opening credit, itu LUAR BIASA. Terutama opening credit-nya yang bisa jadi merupakan salah satu opening credit terkeren sepanjang masa (^^v), ah I wish I could see it in big screen~

The Girl with The Dragon Tattoo

TGWTDT mungkin harusnya dapat lebih banyak apresiasi di Oscar 2012 (walaupun film ini telah menyabet tiga nominasi segi teknis, satu nominasi segi akting, dan menyabet satu piala untuk Best Editing). Dalam catatan gw, ini kali ketiga Fincher membawa aktor/aktris yang tidak terlalu tenar hingga berhasil masuk nominasi Oscar, yakni untuk Taraji P. Henson dalam “The Curious Case of Benjamin Button", Jesse Eisenberg dalam “The Social Network", dan Rooney Mara dalam TGWTDT. Yaa setidaknya TGWTDT harusnya bisa masuk nominasi Best Picture dan Best Director lah. Tapi betapapun, TGWTDT bisa jadi film yang quite-likable for all so-so movie-watchers but a great gift for all Fincher-lovers. Yang pasti, ini bukan film yang bisa Anda abaikan. Mudah-mudahan sekuelnya direstui pihak studio untuk kembali diproduksi dan mudah-mudahan Fincher kembali duduk di kursi sutradara. Amin.

 VERY GOOD 


DETAILS AND CREDIT

The Girl with The Dragon Tattoo
THE GIRL WITH THE DRAGON TATTOO | COUNTRY USA YEAR 2011 MPAA R for brutal violent content including rape and torture, strong sexuality, graphic nudity, and language GENRE Crime, Drama, Mystery, RUNTIME 158 min CAST Daniel Craig, Rooney Mara, Christopher Plummer, Stellan SkarsgĂ„rd, Robin Wright WRITER Steven Zaillian (screenplay), Stieg Larsson (novel) DIRECTOR David Fincher AWARDS Won Oscar, another 11 wins & 30 nominations BUDGET/GROSS $90,000,000 (est.) / $102,515,793 (USA per 18 Mar 2012) IMDB RATING 8.0/10 METASCORE 71/100 (Generally Favorable) TOMATOMETER 86% (Certified Fresh) MORE INFO

6 comments:

  1. Better than the original hehehe
    Lebih asyik ngeliat versi Fincher yang keren & nggak tahu knapa lebih gampang dimengerti

    ReplyDelete
  2. oh ya? sampai sekarang gw masih belum kesampaian nonton versi Swedia-nya. tapi memang, film ini tergolong mudah diikuti karena ga terlalu ngotak.


    ah, sayangnya belum ada kejelasan next project dari Fincher selepas TGWTDT ini, selain TV-series House of Cards yang entah kapan tayangnya itu.

    ReplyDelete
  3. Gatau versi Swedianya lebih rumit, lebih nge-art apa subtitlenya jelek jadi nggak begitu ngerti deh haha
    Iyanih, nasib sekuel Dragon Tattoo juga nggantung gini

    ReplyDelete
  4. Kalo gw ngedukung versi Swedia nya :p gak berarti yg ini jelek sih.. cuman gara2 udah nntn yg versi Swedia duluan (dan suka bgt), jadinya pas nntn ini kesannya gak begitu dapet.

    ReplyDelete
  5. bakalan jadi tantangan buat Fincher, apakah dia bisa menyelesaikan trilogi ini dengan kualitas yang sama kerennya? soalnya sambutan buat film yg pertama aja kayaknya ga terlalu spektakuler.

    ReplyDelete
  6. haha okay i should've watched the Swedish version

    ReplyDelete

Share your thoughts!