Friday, May 18, 2012

21 Grams (2003)

Menurut penelitian terkini, manusia kehilangan berat badan sekitar 21 gram tepat pada saat ia meninggal dunia. Namun, "21 Grams" bukan mempersoalkan fakta sains yang unik itu: "21 Grams" menceritakan kisah yang lebih dalam tentang kehidupan dan kematian. Salah satu jebolan Oscar yang dinilai kebanyakan orang sebagai salah satu film terbaik sepanjang masa. Benarkah demikian?

Dari segi cerita, gw bisa katakan bahwa memang kisah film ini sangat menyentuh. Intinya, "21 Grams" mengisahkan tentang Paul Rivers (diperankan oleh Sean Penn) yang hampir mati akibat kerusakan organ hati. Tak dinyana, ia berhasil mendapatkan donor hati dari seseorang yang tidak diketahui namanya. Di sisi lain, Cristina Peck (diperankan oleh Naomi Watts) sedang mengalami goncangan yang sangat dahsyat karena suami dan kedua anaknya meninggal dunia akibat tabrak lari. Si pelaku tabrak lari adalah seorang mantan berandalan yang telah insyaf dan kembali ke jalan religius, yakni Jack Jordan (diperankan oleh Benicio Del Toro). Benang merah tiga tokoh ini mulai tersambung ketika hati suaminya Cristina didonorkan kepada Paul dan Paul yang merasa harus berbalas budi akhirnya bertemu dengan Cristina dan menjalani hubungan. Dari sanalah mereka menemukan Jack dan merencanakan balas dendam demi menebus nyawa suami dan anak-anak Cristina .

Film ini datar, datar, datar sekali. Diceritakan melalui timeline yang bolak-balik alias tidak linear, "21 Grams" selalu bernuansa sedih atau low-mood. Dari sinilah sutradara berhasil sekali membawakan pesan moral dan nuansa kesedihan yang sangat terasa. Gw dibawa untuk turut merasakan segala kemurungan yang terjadi. Anda benar-benar akan dibuat merasakan seperti apa jika dalam waktu singkat Anda kehilangan nyawa Anda, atau, apa yang akan Anda rasakan jika orang-orang yang paling Anda sayangi, yang dalam beberapa menit yang lalu masih berkomunikasi dengan Anda, tiba-tiba meninggalkan Anda untuk selama-lamanya.

Tiga tokoh utama di atas membawakan masing-masing kesedihan versi mereka. Sean Penn bertugas membawakan karakter seseorang yang menanti ajal, yang putus asa dan mulai acuh-tak-acuh dengan kehidupan. Naomi Watts membawakan karakter seorang istri yang mengalami goncangan terbesar dalam hidupnya, yakni kematian suami dan dua gadis ciliknya, sehingga terjerumus ke obat-obatan terlarang dan mulai menyia-nyiakan hidup. Sedangkan Benicio Del Toro menjadi karakter seseorang yang baru saja insyaf dan kembali menapaki jalan keimanannya tetapi mengalami ujian kehidupan yang cukup pelik sehingga ia mulai meragukan lagi kasih sayang Tuhan kepada dirinya. Sungguh sebuah padu-padan masalah-masalah kehidupan yang paling signifikan dampaknya sehingga tak salah jika Anda bisa-bisa menangis menonton film ini.

Tetapi bagi gw, betapapun menyedihkan plotnya, film ini kurang polesan. Terlalu mengandalkan plot dan timeline yang bolak-balik. Untungnya akting aktor-aktrisnya memenuhi. Di luar itu, hampir pasti Anda akan mati kebosanan kalau Anda tidak serius mengikuti film ini. Sepi efek-suara! Gw membayangkan kalau film ini dilatari score yang mendayu-dayu, mungkin bisa jadi gw ikut-ikutan menangis menonton film ini karena terbawa suasana sedih dan putus asa yang sangat kental. Tetapi, walaupun pengaturan kamera telah membuat film ini terlihat realis, seperti ada yang menjegal film ini dari kualitas maksimal yang bisa diraih.

Dan, walaupun dari segi ekspresi dan akting para pemain telah cukup sesuai, gw rasa pendalaman penokohan masing-masing kurang jelas. Misalnya, karakter Paul Rivers yang menurut ulasan IMDB ternyata adalah seorang profesor matematika, tidak terlihat atau diutarakan dengan jelas dalam film bahwa latar belakangnya adalah dunia akademis. Satu-satunya scene yang menurut gw menjelaskan bahwa ia adalah seorang profesor matematika adalah ketika ia berdialog tentang angka dan alam semesta. Itu saja. Di scene-scene sebelumnya, gw malah sempat berpikir bahwa Paul Rivers ini seorang pengangguran yang malas. Bukan asal tebak, tetapi sejak awal film, si Paul Rivers ini dipertontonkan selalu mengisap rokok, malas, dan sembunyi-sembunyi dari istrinya untuk melanggar anjuran dokter. Begitupun dengan Jack Jordan yang tidak jelas latar-belakangnya sebelum insyaf, hanya dipertontonkan bahwa ia punya banyak tato dan penampilannya sedikit urakan. Walaupun mungkin hal-hal di atas tidak mengurangi esensi plot yang sebenarnya dibawakn, tetapi jika ada cukup kejelasan atas karakter-karakter di atas, mungkin penonton akan lebih nyaman menerima plot yang hadir sehingga tidak seolah-olah dipaksakan. Seperti tahu-tahu ada tiga orang yang, entah berdosa apa, diberi kemalangan oleh Tuhan.

Pada akhirnya, film ini menjadi salah satu film paling datar yang pernah gw tonton. Hampir tidak ada sentakan-sentakan yang berarti yang dibuat oleh plotnya. Gw akui Naomi Watts dan Benicio del Toro bermain sangat ekspresif dalam film ini sehingga gw pikir mereka pantas dinominasikan di Pemeran Utama Wanita Terbaik dan Pemeran Pendukung Pria Terbaik Academy Awards (dan Sean Penn juga dapat, seharusnya). Kisah yang dituangkan juga benar-benar filosofis dan sangat menyentuh. Tetapi, entah, film ini tidak memenuhi ekspektasi gw. Ide ceritanya cukup bagus, hanya saja kurang eksplorasi. Kurang memenuhi kualitas film yang memuaskan gw.



★★★★★

YEAR 2003 GENRE Drama, Crime
CAST Sean Penn, Naomi Watts, Benicio Del Toro
WRITER Guillermo Arriaga DIRECTOR Alejandro González Iñárittu

3 comments:

  1. ini klo gw sh klo dr scoring ga trlalu gimana2. soalny klo gw ngliatnya ini kan settingnya di negara bagian di selatan mcm texas ato new mexico gt yg daerahnya rada2 kering bin gersang. nah disitu, klo pas awal2 90an sh (walopun ini jg ga terlalu jls setting waktunya kapan) yg gw tau itu lg booming2nya scene indie rock yg make style twinkle gitar gt dh, yg cm petikan2 sendu gt, kek di film ini. kyk misalnya minerals, yg ntar2nya ngeinfluence explosions in the sky.
    yah pokonya gitu deh.. haha. intinya klo gw sh ga trlalu kbratan sm scoringnya, kbetulan aj ga tlalu bias wlopun kalo mau scoring jd pas sm keadaan geografi mcm gt, ga selalu pas klo misalny, film di lokasi pantura dgn scoring dangdut. tp tergantung sh.

    tp overall setuju jg bar ini filmnya kurang. soalny ini film biasa yg dimindfuckin entah knp. beda sm misalny the fountain, di mana mindfucknya itu emg sebagai 'gaya penceritaan' disitu. mksdnya melekat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah gw malah ga tau lho kalo ada latar belakangnya yang ngaruh ke gaya penceritaan film ini. mungkin emang udah jadi ciri khas sutradaranya kali. gw belom pernah nonton film karyanya Alejandro Gonzalez Inarittu selain ini sih.

      Delete
  2. ngomong2 mindfuck, gw jg blm lama taunya klo michael gondry trnyata jg bikinin mv http://www.youtube.com/watch?v=EN9auBn6Jys&ob=av2e

    ReplyDelete

Share your thoughts!