Sunday, August 19, 2012

Serba-Serbi Genre Film (3 of 3)


<<lanjutan dari posting "Serba-Serbi Genre Film (2 of 3)">>

Romance
Film romance (roman) adalah film yang menceritakan kisah percintaan. Tema utamanya harus percintaan, jadi jika ada beberapa adegan saja dalam suatu film yang menunjukkan kisah percintaan sebagai selingan, film tersebut tidak serta-merta dianggap romance. Biasanya, genre ini akan combine dengan genre drama. Misalnya film “Titanic” dan “(500) Days of Summer”. Ketika gw menyebutkan kisah “percintaan”, yg gw maksudkan di sini tidak hanya percintaan yang wajar antar lawan jenis lho. Ada kalanya film romance menceritakan percintaan sesama jenis, seperti dalam “Brokeback Mountain”. Hati-hati dengan genre ini karena biasanya akan ada banyak adegan dewasa. Minimal ciuman lah. Jadi pastikan nonton romance tidak dengan adik atau anak kecil ya! :D

Sci-Fi
Udah gw singgung di penjelasan genre fantasy di atas, sci-fi (dibaca “sai-fai”, kepanjangan dari science fiction) banyak berbicara tentang sains dan teknologi walaupun seringkali hal-hal yang difilmkan itu tidak benar-benar nyata secara ilmiah. Ingat, film sci-fi bisa juga bergerak di ranah politik atau sosial, asalkan diceritakan dengan empiris. Sulit sih ya memisahkan antara sci-fi dan fantasy karena intinya, keduanya sama-sama ngayal. Gw lebih suka membedakan keduanya sebagai berikut: sci-fi selalu mencoba menjelaskan bahwa kejadian fiktif itu akibat peristiwa ilmiah, sedangkan fantasy tidak memberikan penjelasan apa-apa dan penonton dibuat menerima apa-adanya. Sci-fi bisa bercerita tentang robot (“The Terminator”), pikiran manusia (“Eternal Sunshine of The Spotless Mind”), monster (“Godzilla”), alien (“Alien”), bencana (“Planet of The Apes”), atau time-travel (“Back To The Future”).

Sport
Film sport adalah film yang bertemakan olahraga (you don’t say?). Ini bisa tentang olahraganya itu sendiri, seperti "The Fighter", atau tentang tokoh dari bidang olahraga (biasanya combine dengan genre biopic, historical, atau documentary), seperti dalam “Moneyball”. Peristiwa olahraga yang difilmkan bisa berupa kejadian nyata (which should be related to documentary) atau fiksional.

Thriller
Film thriller diciptakan dengan mengedepankan unsur ketegangan dan stimulus emosi bagi penontonnya. Film thriller memiliki cerita yang membuat penonton geregetan, cemas, bimbang, dan terpacu adrenalinnya. Berbeda dengan horror yang lebih mengutamakan untuk memancing rasa takut saja, thriller lebih bikin penonton terpancing emosi. Penonton akan berkomentar kayak “Aduh, misinya berhasil gak ya?” atau “Cepetan pergi, nanti ketahuan penjahatnya!” atau “Kok ini penjahatnya hidup lagi? Kayaknya tadi udah mati tenggelam deh...”. Genre thriller sangat mungkin combine dengan genre lain seperti mystery, crime, atau horror. Sub-genre thriller antara lain (1) conspiracy thriller, yakni thriller yang didasarkan pada konspirasi sekomplotan orang, seperti dalam “The Da Vinci Code”; (2) political thriller, yakni thriller yang berlatar pada kondisi politik pemerintahan, seperti dalam “The Ghost Writer”; (3) psychological thriller, yakni thriller yang dibuat berdasarkan konflik psikologis, seperti dalam “Shutter Island”; dan lain-lain. 

War
Eits, mungkin Anda langsung berpikir bahwa film war ya berarti film tentang perang. Itu ada benarnya, tapi sayangnya film ber-genre war tidak melulu harus ada adegan perang yang baku-hantam secara fisik. Intinya, dalam film war itu ada unsur (1) perselisihan antara dua grup yang bisa berujung pada perkelahian masal, (2) tekanan moril dan penindasan penduduk selama masa peperangan (jadi “perang”-nya hanya muncul sebagai latar waktu saja—dan ini sangat mungkin combine dengan genre historical), atau (3) persaingan antara dua grup. IMDB mensyaratkan bahwa perang yang diangkat sebagai cerita dalam suatu film war haruslah perang yang real, bukan fiksional. Contohnya “300”, “The Hurt Locker”, dan “Schindler’s List”.

Western
Genre western akan begitu kentara dari latar waktu dan tempatnya. Biasanya, film genre ini akan mengambil latar tempat di wilayah American West (seperti Texas). Lebih stereotip lagi, karakternya biasanya adalah koboi dengan topi koboinya dan kuda yang ditunggangi, lalu ada sheriff atau bar, dan umumnya ada adegan pistol-pistolan. Contohnya "The Good, The Bad, and The Ugly" dan “The Assassination of Jesse James by the Coward Robert Ford”.

----
Wawawawawa~ akhirnya selesai juga tulisan ini. Jujur, sembari menyusun tulisan ini, gw juga jadi belajar dan membaca banyak tentang genre film (dan gw juga jadi makin menyadari kesalahan-kesalahan dalam review-review gw hwaaa~). Agak rumit memang. Mungkin jika ada yang menyodorkan pertanyaan ke gw “Bar, film X itu genre-nya apa?” tanpa mengizinkan gw ngecek IMDB, gw sendiri akan kesulitan (apalagi kalo gw belum pernah nonton filmnya). Tapi, dari sini setidaknya kita akan bisa mengenali dengan lebih baik suatu film. Secara khusus, gw juga berharap agar di antara pembaca sekalian yang gandrung nonton film tidak ada lagi saling diskredit satu genre dengan genre lainnya. Semua genre punya kelebihan masing-masing dan setiap film juga punya penggemarnya masing-masing (seperti film cult yang bahkan punya fanbase-nya sendiri).

Ingat bahwa penentuan genre di IMDB dilakukan oleh user yang melakukan submission atas suatu film, bukan tim IMDB sendiri yang menentukannya. Submitting user akan diberikan guideline tentang genre apakah yang cocok untuk film yang akan di-submit ke database IMDB. Itu sebabnya, penentuan beberapa genre akan sangat subjektif (seperti genre action, adventure, comedy, crime, drama, fantasy, horror, mystery, romance, sci-fi, dan thriller) sementara genre yang lain akan lebih objektif karena parameter penentunya terlihat jelas dalam setting filmnya.

Gw akui tulisan di atas sangat amat awam dan sangat amat jauh dari sempurna. Itu sebabnya gw membuka diskusi melalui kotak komentar di bawah ini. Gw terbuka untuk itu agar kita sama-sama belajar lebih banyak lagi tentang topik ini. Terima kasih! 

references
Categories:

3 comments:

  1. Waaaah..nice info bar :)

    ReplyDelete
  2. ASSALAMU'ALAIKUM ...wah, sip. top markotop, sip markosip, joz markojos. nice lah pokoke. makasih

    ReplyDelete
  3. saya kdang sulit membedakan genre Thriller dan misteri..

    ReplyDelete

Share your thoughts!